MENUNGGU
written by : Ahn Ah Ra
Kebanyakan orang bilang, masa SMA adalah masa yang
sangat berharga. Masa terakhir sebagai seorang siswa dan masa-masa untuk
mengenal cinta. Sekarang aku sudah menduduki bangku SMA kurang lebih satu
tahun. Kedudukan tahun ini di berada ditengah, bisa menjajahi junior namun
masih bisa dijajahi oleh senior.
Semua siswa berkerumun
di tiap pintu kelas untuk mengetahui kelas masing-masing. Aku hanya menunggu
kabar dari temanku. Apakah mereka melihat namaku atau tidak. Lebih jelasnya
saja aku sangat malas berkerumun seperti itu. Ternyata aku menjadi bagian
sebuah kelas yang disebut IPA1 karena urutan kelasnya yang pertama. Ya sesuai
dengan keinginanku dan orangtuaku, mendapat program IPA.
Aku bersama teman
dekatku sejak kelas 10 berdiri di dekat pintu. Seseorang melewati kami dan
tersenyum. Entah mengapa saat itu juga aku hatiku tersentak
“eh di, temen lo ya ?”
tanyaku pada Adi yang berdiri disebelahku.
“iya, satu ekskul sama
gue. Kenapa ?” jawab Adi.
“manis ya dia.” Jawabku seraya tersenyum.
“entar gue kenalin
deh.” Ledek Adi
“hah ? serius nih ? “
sahutku. Aku diantara sebuah kebingungan. Aku benar tak kuasa menahan betapa
senangnya aku saat Adi berkata seperti itu. Dan aku jatuh cinta pada pandangan
pertama, karena sebuah senyum manis, dan karena aku berdiri di depan pintu
kelas. Ridho mendatangiku dan menghentikan lamunanku.
“Ta, serius amat
ngelamun nya. Ngeliatin apa hayo?” tanya Ridho.
“Ini, ngelamunin si
Radit dia. Hahaha . “ Adi pun terkekeh meledekku.
“Lo berdua gak seceng
banget sih. Gue gak diajak ngomong juga sama Adi, ya gue diem aja. Week.”
Kujulurkan lidah lalu masuk ke kelas. Seperti biasa, pada hari pertama sekolah
di semester awal, kelas tidak terlalu ramai. Kebanyakan dari mereka ikut
nge-MOS-in anak-anak baru. Berhubung gue bukan anak Osis, jadi gue tinggal deh
di dalem kelas.
Gue, Adi, dan Radit
udah temenan deket dari kelas 10. Dan beruntungnya kita sekelas lagi. Jadi, gue
nggak usah susah-susah bergaul terlalu gimana sama yang lain. Walaupun juga itu
sebuah keharusan. Paling tidak aku memiliki teman untuk ngobrol.
“Dit, kenalin. Ini
Tata. Tata, ini Radit”
“Tata” sapaku.
“Radit” sapanya sambil
meraih tanganku untuk berjabatan. Kesanku terhadapnya : pertama, dia adalah
seseorang yang tegas. Kedua, tatapan matanya benar-benar tajam dan fokus pada
satu titik. Dan saat itu titiknya adalah aku. Sejak perkenalan singkat inilah
aku tidak hanya bersama Adi dan Ridho, tapi juga Radit.
+++
“Tataaaaaaaaaaa.....”
seseorang memanggilku. Aku menoleh mencari seseorang yang memanggil di sepanjang koridor ini. “Ta, ke
rumah gue yuk. Ajarin gue fisika. Lo kan jago. Adi sama radit juga ikutan.
Hehhe. Mau ya?” pinta Radit.
“iya, iya. Sekarang ya
? “ tanyaku.
“iya lah. Sekarang. Yuk
“ ajaknya. Hampir setiap hari aku kerumahnya. Tak hanya aku sendiri Ridho dan
Adi pun juga. Aku juga mulai akrab dengan Mamanya. Malah terkadang, Mama Radit
mengundangku hanya untuk sekedar bercerita atau menyantap masakan dari sebuah
resep baru yang dicobanya. Semua nya enak. Dan aku menyukainya.
“Ta, kamu kok deket banget
sama Radit?” tanya Yuri.
“oo, iya. Cuma temen
kok. Kenapa ?” tanyaku kembali.
“Aku suka sama dia, mau
nyomblangin nggak?” aku benar-benar kaget. Bukan hanya Yuri, Radit sendiri juga
pernah bercerita tentang Yuri. Aku hanya tidak tahu apa yang benar-benar harus
aku lakukan. Di satu sisi, aku menyukai Radit dan disisi lain aku tak mungkin
menolak hal ini. Kalaupun kutolak, pasti akan tersebar gosip tak enak sementara
aku menutupi perasaanku ini dengan sangat ketat agar tak seorangpun akan
mengetahuinya.
“iya deh, entar aku
comblangin”
Hari ke hari Radit
tetap selalu bercerita tentang kedekatannya dengan Yuri samapai suatu hari.
“Ta, thanks ya. Lo
bener-bener sahabat gue” kata Radit kepadaku.
“iya sama-sama. Tapi
kenapa ya, bahagia banget lo hari ini” jawabku heran.
“hmm. Ta, gue jadian
sama Yuri. Semalem. Gue dateng ke rumahnya.” ujar Radit bahagia. Apa ? nggak.
Gue nggak seneng. Dit, kamu salah orang buat curhat yang satu ini. Aku sakit
dit.
“waah, selamet ya. Eh,
teraktir kita niih. Pajak jadian. Hhaha” tawaku palsu.
“iya nih. Tularin
seneng lo ke kita dong” kata Adi.
“iya-iya. Beli deh
makanan di kantin yang kalian bertiga mau. Entar gue yang bayar.”
+++
Hari ini hujan. Tentu
saja aku harus menunggu hujan ini reda. Kali ini aku tidak bersama geng cowok
tiga itu. Aku kembali ke habitat ku untuk berkumpul bersama teman-teman
se-gender ku. Hape ku berbunyi. Ada sms. Aku segera membukanya. Ini dari
Mamanya Radit.
Tata udah sampe dirumah ?
“Siapa Ta?” tanya Fila.
“Ini, dari mamanya Radit”
ups. Aku lupa.
“hah ? kok bukan Yuri
ya, malahan kamu? Ujar Fila bingung. Aku hanya tertawa kecil merasa tidak enak
dan takut. Tidak enak kalau sampai Yuri tau dan takut di kalo Yuri sampe tau.
Aku kembali diundang
mama radit ke rumah. Radit sedang di luar. Jadi, aku hanya menemani mama nya
yang hanya dirumah.
“Ih, tante nggak suka
sama pacarnya Radit. Yuyu. Sombong anaknya” tiba-tiba tante mira menyela
pembicaraan. Jelas aku senang dong. Yuri tak dapat dukungan dari tante mira. “tenang aja Ta, orang yang lama pacaran aja
belom tentu jadi. Tunggu saja waktunya yang tepat. Cinta itu anugerah” Tante
mira kayaknya yakin bener aku suka sama anaknya. Aku masih tetap memasang raut
wajah yang tenang, lugu, dan pura-pura tidak tahu. Cinta itu anugerah. Aku nggak
akan pernah lupa kata-kata Tante Mira yang itu.
Apa sebaiknya aku
katakan saja pada radit, tentang perasaan ku? Setidaknya aku bisa merasa lega
setelah berbulan-bulan menahan sebuah perasaan. Tidak, jangan sekarang. Aku
takut, Radit akan menjauhiku karena tau aku punya perasaan lebih terhadapnya.
Aku selalu bilang sama teman-temanku kalau aku menyukain seseorang, namun
setiap mereka tanya siapa, aku selalu menunjuk orang yang berbeda. Tak mungkin
aku katakan pada orang-orang tentang perasaan ku walau aku sering merasa sakit.
“Kemaren sore lo kemana
sama Radit?” tanya Yuri sambil menatapku tajam.
“Cuma gowes doang di
sekitaran komplek. Kenapa ?” kebetulan aku sudah lama berada di perumahan yang
sama dengan Radit namun Perumahan ini tergolong perumahan yang besar sehingga
rumahnya banyak jadi wajar aja kalo gue baru tau.
“Oooh. Gitu ya ? gue
waktu itu juga pernah gowes bareng dia, terus kita makan di kafe sepulang dari
gowes. Seru deh. “ ujar Yuri tiba-tiba. Aku sontak terkejut. Untuk apa Yuri
menyombongkan pa yang telah dilakukannya dengan Radit. Apa dia merasa seseuatu
yang aneh dari ku terhadap Radit? Apa dia cemburu, aku lebih sering bermain
dengan Radit ketimbang dia jalan sama Radit yang notabene pacarnya? Dasar cewek
aneh. Gue bener-bener nyesel pernah ngenalin lo ke Radit.
“wow, asik banget ya.
Kayaknya Radit romantis banget orangnya.” Pujiku
“iyalah, Radit itu
cowok paling romantis. Selain itu dia baik banget orangnya.” Jawab Yuri lagi. Dan jawabannya itu adalah
jawaban yang tak perlu diutarakan sedemikian rupa. Aku sudah tau kalau Radit
orang yang romantis dan baik. Dan setahuku dia memang sanagat baik. Bukan hanya
setahuku, tetapi serasaku.
Pagi ini hujan lagi.
Rata-rata siswa dan guru datang terlambat. Aku mensyukurinya karena tak ada
yang lebih indah selain melihat dan
merasakan indahnya hujan. Sekolah pun berakhir, tiba-tiba ada yang menepuk
pundakku. Aku menoleh.
“eh Radit. Kenapa ?
“Gue mau cerita Ta. Ke
rumah gue yuk” ajak nya.
“oke deh, yang lain
ikut kan ? tanyaku.
“Nggak. Gue mau curhat
eksklusive sama lo. Cuma lo yang bisa” ya Tuhan, Radit, kemana aja sih kamu?
Emang Cuma aku yang bisa. Hhehehe.
DI RUMAH RADIT
“Ta, gue bingung sama
sikap Yuri. Kenapa dia ngelakuin gue kayak gini. Tiap hari gue dicuekin. Tiap
hari dia ngajak berantem. Padahal gue selalu sayang sama dia, gue selalu baik
sama dia. Kenapa sih dia gak peduli sama perasaan gue?
“Dit, lo sabar. Emang
Yuri tu kayak gitu orangnya. Coba deh lo tanya sama dia, kenapa dia kayak
gitu.” Jujur, aku sangat sedih mendegarnya.
“udah Ta. Tiap gue
tanya gitu, dia pasti jawab, “pikir aja sendiri” terus, apa dong yang harus gue
pikirin? Gue nggak tau Ta. Emang nggak ada yang sayang sama gue” air mata Radit
jatuh. Aku pun mulai ikut menangis. Tak kusangka Radit terlalu menderita
bersama Yuri walau dia sangat menyayangi Yuri. Yuyu, awas kau ya.
Berani-beraninya menghancurkan hati My
Radit.
“Dit, banyak kok yang sayang sama lo. Nyokap lo, bokap lo, gue, Ridho, Adi,
keluarga lo semuanya. Semuanya sayang sama lo. Masa lo nyerah gini Cuma
gara-gara seorang cewek?”
“makasih ta” Radit
memelukku sambil menangis. Aku ikut terlarut dalam kesedihannya namun lumayan
bahagia karena bisa bilang sayang sama radir dan mendapat pelukan hangatnya.
“iya sama-sama” aku
tersenyum dan menepuk punggungnya pelan. Sebenernya aku mau bilang sama Radit “Dit, tinggalin aja lah si yuri, masih ada
gue yang bakal buat hari-hari lo bahagia. Bukan sebagai sahabat lo, tapi
sebagai pacra lo” tapi nggak mungkin deh kayaknya.
Radit mengatarku pulang
ke rumah. Dia terlihat lebih bersemangat dari yang sebelumnya. Aku masuk
kerumah dengan hati yang lumayan bahagia dan sedikit marah. Marah sama Yuri.
Huh -,-
+++
“Ta, tau nggak, si Radit putus.”
Kata Adi yang sangat membuatku kaget.
“hah ? serius lo? Kapan?” tanyaku
pensaran.
“Udah semingguan ini deh
kayaknya. Dia nggak cerita sama lo ya?”
“Nggak. Gue aja taunya dari lo.”
Ya Tuhan. Terimakasih telah mendengar doaku. Sekarang aku harus apa ? ngasih
tau dia kalo aku suka ? atau apa?
Aku menghampiri Radit yang sedari tadi seperti menunggu
seseorang di depan gerbang sekolah. “eh dit, ngapain bediri disini ?” tegurku
langsung tanpa basa-basi.
“Lama banget sih, gue tungguin dari tadi. Yuk pulangnya barengan.” Ujar
radit. Dan aku tersipu. Hehe. “Lo tau kan kabar gue yang putus?” tanya radit tiba-tiba saat di perjalanan.
“Iya kok. Gue dikasih tau Adi. Kenapa bisa?” tanyaku.
“bisa lah. Gue udah capek ngadepin dia. Sesayang apapun gue, dianya masih
kayak gitu nggak ada perubahan, gue akhiri aja. Bener kan langkah yang gue
ambil ini?”
“iya. Bener kok. Kalo gue jadi lo, gue juga bakal ambil langkah yang sama
walaupun sebenernya buat ngelupainnya yang susah”
“susah sih emang. Tapi gue nggak. Gue udah bisa ngelupain dia.” Cepet
banget sih dit?
“loh? Kok cepet banget. Bukannya lo sayang banget sama dia.”
“iya. Tadinya gue sayang, tapi rasa gue udah mati ke dia. Dan gue tau siapa
yang bener-bener care sama gue dan
selalu ada disaat apapun keadaan gue dan satu hal lagi, disukain sama nyokap
gue” ujarnya sambil menatap mataku tulus. Aku bisa melihat sesuatu yang berbeda
dari tatapannya. Sangat berbeda. Aku tersenyum, Ia pun begitu.
Dan saat itulah aku bahagia dan tak pernah menyesal menunggunya. Menunggu
hatinya hingga Ia menyadarinya
-end-