Saturday, December 15, 2012

A story (2)



Oh,ternyata
By : Ahn Ah Ra

Aku menyukainya. Senyum ramah itu, mata itu, sikap itu, dan semuanya, aku menyukainya. Seseorang yang ku sebut sahabat. Ifan.
Seperti biasa, aku pergi ke sekolah bersama Ifan. Dia sudah menungguku. Ah, gayanya masih sama seperti biasanya. Aku tersenyum simpul melihatnya dari jauh. Kuturuni anak tangga cepat-cepat takut membuatnya menunggu terlalu lama. Dan kami berjalan menuju sekolah. Sekolah kami tak terlalu jauh. Ifan membuka obrolan lebih dulu. “eh, lu kenal siska ?” siska ? ngapain Ifan nanyain siska? “iya gue kenal, emang kenapa?” please jangan bilang kamu suka dia, jangaaan fan jangaaan. “semalem dia nge-PING, gue ping balik, dia bilang salah ping, modus banget sih.” Oh ternyata begitu. Syukurlah kamu nggak suka dia. Lalu Ifan menambah omongan “abis itu kita bbm-an sampe larut. Nggak tau kenapa, cepet banget langsung akrab gitu. Padahal sebelumnya gak pernah tegoran. Heheh aneh ya Mel” dia tersenyum, tersipu, sedikit menoleh ke arahku dan aku tertawa seraya berkata “jangan buru-buru yaa Ifaaan.” “iyaaa baweel lu ah.” Apa-apaan ini? ternyata? Ah sudahlah, lagian aku tak mungkin mengatakan tentang… ah sudahlah.

Aku berjalan menuju kantin, sendiri. Terkadang ada disaat aku malas bergabung dengan yang lain dan saat itu muncul sekarang. Aku pesan satu mangkuk bakso, makanan favorit aku dan Ifan. Aku memulai menyantap bakso ku lalu seseorang menghampiri, siska. “mel, lu temenan sama Ifan kan ? dia gimana ya orangnya?” aku tersedak, sedikit batuk, minum air putih, lalu menjawab, “dia baik. Kenapa emang?” oh, aku tau jawaban siska pasti… “aku suka sama dia mel.” tuh kan bener. “oh, pantes, dia yadi nyeritain elu” tuh kan, akunya bego. “iya ya ? bagus deh kalo gitu. Thanks ya mel.” Siska berlalu, loncat-loncat kegirangan. Heran, cepet amat udah suka aja. Dan aku lahap lagi bakso yang masih ya, lumayan banyak. Aku menoleh sekitar, tak ada Ifan, lanjut makan.

Aku menunggu Ifan di depan pagar. Seperti biasa, pergi bersama, maka pulang harus bersama. aku celingak celinguk mencari apa sosoknya sudah muncul atau belum. 3 menit menunggu, sosoknya sudah terlihat dari kejauhan, tentu saja aku sudah hapal, langkah kakinya, caranya berjalan dan aku tak akan lupa. “maaf ya lama nunggu, yuk pulang.” Ujarnya. “gak apa-apa kok. Yuk.” Aku mengangguk dan mulai melangkah menuju rumah masing-masing. “besok gue jemput lagi ya mel.” Hah? Gak salah denger nih? “kan emang begitu. Lu ke rumah gue, terus, pergi bareng.” “oh iya ya, gue lupa mel. Haha” dia tertawa, seakan, ah, mungkin saja….entahlah, apa hanya aku yang merasakan.

Lain waktu lagi, sama seperti biasa-biasanya, Ifan menungguku di depan rumah dengan gayanya yang entahlah, menawan mungkin dan kami pergi bersama. seperti biasa, kami tertawa, bercanda, sepanjang jalan ini.”Mel, Eki nanyain elu ke gue. Kayanya suka tuh dia.” Apaan sih lo fan, masa iya kamu nyomblangin aku ke orang lain? “iya, gue suka bbm-an sih sama dia. Apaan sih lo bodo amat ah.” Bodo amat fan, aku suka nya kamu doang. “gak apa-apa kali mel, pokoknya kalo dia nembak, terima aja ya.” Ah Ifan segininya sama ahabat sendiri, kenapa nggak tanya perasaan aku nya gimana-gimana atau apa? “apaan sih lo. Emang kenapa sih? Gue mau nerima atau nggak kan urusan gue.” Aku berpaling sejenak, tarik nafas . “soalnya Mel, gue mau nembak Siska. Menurut lo gimana? Kalo Eki nembak lo, trus lo terima, kita bias double date gitu” dan ketika itu juga harapanku terhenti. Kenapa tiba-tiba sih? “terserah lo sih, gue dukung kok.” Bohong kamu mel, bohong banget. Fan, tega banget sih, kenapa nggak liat aku sih ? dan sepanjang hari itu sampai mereka jadian, gue tetep ketawa, yang pada akhirnya Eki bener-bener nembak gue dan gue terima guna menghilangkan sakit dan kecewa. Apa karena aku nggak bilang ke dia? Nggak mungkin aku bilang duluan. Dan mungkin dia nggak akan tahu samapi pada akhirnya masing-masing dari kami bersama yang lain. Ya aku menyukainya tanpa ia sadari dan ketahui, tanpa pernah ia tanyakan dan mungkin ia nyatakan. Dan aku tak pernah tau yang sebenarnya.


***

Aku menyukainya. Wajah lembut, pipi merah, senyum indahitu, dan semuanya, aku menyukainya. Seseorang yang ku sebut sahabat. Imel.
Seperti biasa, aku sarapan pagi dan bergegas ke rumah Imel. Kami selalu pergi ke sekolah bersama. Aku menunggunya sejenak. Imel keluar dengan rambut sedikit basah dan gayanya yang alakadar tak berlebihan. Kami berjalan sedikit lambat, waktu masih menunjukkan pukul 6.15 wib. Aku membuka obrolan perjalanan kali ini. “eh, lu kenal siska?” jangan mikir yang mcem-macem ya mel. “semalem dia nge-PING, gue ping balik, dia bilang salah ping, modus banget sih.” Aduuuh, kenapa aku bilang gitu lagi. “abis itu kita bbm-an sampe larut. Nggak tau kenapa, cepet banget langsung akrab gitu. Padahal sebelumnya gak pernah tegoran. Heheh aneh ya Mel” aku tertawa berusaha terlihat baik dan menawan di depannya. “jangan buru-buru yaa Ifaaan.” “iyaaa baweel lu ah.” Yakin deh kamu nggak punya rasa yang sama. Ah, harusnya aku berani bilang.

Aku melihat Imel jalan sendiri menuju kantin, terlihat dari jauh, memesan semangkuk bakso, makanan favorit kami berdua. Kaki ku hendak melangkah menghampiri namun terhenti, Eki, teman se-ekskul ku memanggil. “sob, mau kemana?” aku menoleh, “nggak mau kemana-kemana. Knapa sih? Tumben bener. Haha.” Aku sedikit tertawa. Dia terlihat mencari-cari seseorang dan menunjuk ke arahnya, Imel. “lu pacaran ya sama tu anak? Imel?” aah, pertanyaan ini, pasti ini anak suka sama Imel. “nggak, gue sahabatan aja sama dia. Suka ya lu sama dia?” iya gue pacarnya, gue mau jadi pacarnya. Please Ki, jangan bilang kalo lo.. “iya, diem-diem aja ya, eh, lu nggak cemburu kan?” iya gue cemburu ! “haha, apaan, nggak lah. Temen gue doang dia mah.” “thanks bro. gue nggak enak aja kalo ternyata itu pacar nya elu, tapi jomblo kan dia?” “iya, dia jomblo, tenang aja haha” aku tertawa sejenak. Ah, gue harus bilang ke Imel, tapi, kalo Imel nolak, ah pasti nggak akan se-akrab ini. Aku kembali melihat Imel yang sedang menyantap baksonya.

Kelas belum bubar juga. Aku toleh keluar jendela, dan siswa-siswi kelas lain sudah bertebaran kemana-mana sedangkan Pak Burhan disini, masih menahan kami untuk menyelesaikan sedikit materinya. Aku ingin cepat-cepat keluar. Tak enak hati jika Imel menunggu terlalu lama. Kelas bubar. Aku segera keluar dari kelas dan berlari sedikit agar Imel tak terlalu lama menunggu. Ya, benar dia sudah menunggu. Aku perlambat langkah. “maaf ya lama nunggu, yuk pulang.” gak apa-apa kok. Yuk “ dia mengangguk dan kami melangakah menuju rumah masing-masing. “besok gue jemput lagi ya mel.” eh, emang biasanya aku kerumah dia, ngejemput dia, terus pergi bareng. Ini kenapa jadi begini ? Ah, Ifaaan, bego banget sih. Kan canggung jadinya. “kan emang begitu. Lu ke rumah gue, terus, pergi bareng.” “oh iya ya, gue lupa mel. Haha” aku tertawa, sedikit hambar. Gara-gara percakapan dengan eki kah?

Lain waktu lagi, sama seperti biasa, aku menjemputnya. Menunggun di depan rumahnya. Seperti biasa pula, dia keluar dengan rambutnya setengah basah, dan gayanya yang alakadar tidak berlebihan. Seperti biasa kami tertawa, bercanda, celotehnya, dan gurauanku membuat jalan ini begitu riang, dan aku berharap tetap seperti ini namun rasa semua itu tidak mungkin. Aku sudah terlalu dekat dengan Siska, dan mungkin Imel, sudah dekat dengan Eki. .”Mel, Eki nanyain elu ke gue. Kayanya suka tuh dia.” Lo jangan suka ya mel, please. iya, gue suka bbm-an sih sama dia. Apaan sih lo bodo amat ah.” Yah, udah sering kontak-an, udah jauh kayanya. “gak apa-apa kali mel, pokoknya kalo dia nembak, terima aja ya.” Ah, bodoh kamu Ifaaan. “apaan sih lo. Emang kenapa sih? Gue mau nerima atau nggak kan urusan gue.” Sedikit membentak. Imel memalingkan wajahnya. Aku sedikit terdiam lalu sedikit berkata, “soalnya Mel, gue mau nembak Siska. Menurut lo gimana? Kalo Eki nembak lo, trus lo terima, kita bias double date gitu” kalo kamu nggak suka aku nembak Siska, bilang ya Mel. Aku mau tau jawaban kamu. “terserah lo sih, gue dukung kok.” Dan disaat inilah, aku yakin Imel tak pernah ada rasa. Hingga aku menyatakan pada Siska, dan Imel menerima Eki. Dan mungkin rasa iini aku biarkan saja. Aku biarkan tanpa ada yang tau. Tanpa Imel tahu, tanpa orang lain tahu. Dan aku tak tahu apa aku telah meyakini hal yang salah.

***



Thursday, September 27, 2012

perahu kertas ku


Tuesday, July 17, 2012

A story


MENUNGGU
written by : Ahn Ah Ra

Kebanyakan orang bilang, masa SMA adalah masa yang sangat berharga. Masa terakhir sebagai seorang siswa dan masa-masa untuk mengenal cinta. Sekarang aku sudah menduduki bangku SMA kurang lebih satu tahun. Kedudukan tahun ini di berada ditengah, bisa menjajahi junior namun masih bisa dijajahi oleh senior.
               Semua siswa berkerumun di tiap pintu kelas untuk mengetahui kelas masing-masing. Aku hanya menunggu kabar dari temanku. Apakah mereka melihat namaku atau tidak. Lebih jelasnya saja aku sangat malas berkerumun seperti itu. Ternyata aku menjadi bagian sebuah kelas yang disebut IPA1 karena urutan kelasnya yang pertama. Ya sesuai dengan keinginanku dan orangtuaku, mendapat program IPA.
               Aku bersama teman dekatku sejak kelas 10 berdiri di dekat pintu. Seseorang melewati kami dan tersenyum. Entah mengapa saat itu juga aku hatiku tersentak
               “eh di, temen lo ya ?” tanyaku pada Adi yang berdiri disebelahku.
               “iya, satu ekskul sama gue. Kenapa ?” jawab Adi.
               “manis ya dia.”  Jawabku seraya tersenyum.
               “entar gue kenalin deh.” Ledek Adi
               “hah ? serius nih ? “ sahutku. Aku diantara sebuah kebingungan. Aku benar tak kuasa menahan betapa senangnya aku saat Adi berkata seperti itu. Dan aku jatuh cinta pada pandangan pertama, karena sebuah senyum manis, dan karena aku berdiri di depan pintu kelas. Ridho mendatangiku dan menghentikan lamunanku.
               “Ta, serius amat ngelamun nya. Ngeliatin apa hayo?” tanya Ridho.
               “Ini, ngelamunin si Radit dia. Hahaha . “ Adi pun terkekeh meledekku.
               “Lo berdua gak seceng banget sih. Gue gak diajak ngomong juga sama Adi, ya gue diem aja. Week.” Kujulurkan lidah lalu masuk ke kelas. Seperti biasa, pada hari pertama sekolah di semester awal, kelas tidak terlalu ramai. Kebanyakan dari mereka ikut nge-MOS-in anak-anak baru. Berhubung gue bukan anak Osis, jadi gue tinggal deh di dalem kelas.
               Gue, Adi, dan Radit udah temenan deket dari kelas 10. Dan beruntungnya kita sekelas lagi. Jadi, gue nggak usah susah-susah bergaul terlalu gimana sama yang lain. Walaupun juga itu sebuah keharusan. Paling tidak aku memiliki teman untuk ngobrol.
               “Dit, kenalin. Ini Tata. Tata, ini Radit”
               “Tata” sapaku.
               “Radit” sapanya sambil meraih tanganku untuk berjabatan. Kesanku terhadapnya : pertama, dia adalah seseorang yang tegas. Kedua, tatapan matanya benar-benar tajam dan fokus pada satu titik. Dan saat itu titiknya adalah aku. Sejak perkenalan singkat inilah aku tidak hanya bersama Adi dan Ridho, tapi juga Radit.
+++
               “Tataaaaaaaaaaa.....” seseorang memanggilku. Aku menoleh mencari seseorang yang  memanggil di sepanjang koridor ini. “Ta, ke rumah gue yuk. Ajarin gue fisika. Lo kan jago. Adi sama radit juga ikutan. Hehhe. Mau ya?” pinta Radit.
               “iya, iya. Sekarang ya ? “ tanyaku.
               “iya lah. Sekarang. Yuk “ ajaknya. Hampir setiap hari aku kerumahnya. Tak hanya aku sendiri Ridho dan Adi pun juga. Aku juga mulai akrab dengan Mamanya. Malah terkadang, Mama Radit mengundangku hanya untuk sekedar bercerita atau menyantap masakan dari sebuah resep baru yang dicobanya. Semua nya enak. Dan aku menyukainya.
               “Ta, kamu kok deket banget sama Radit?” tanya Yuri.
               “oo, iya. Cuma temen kok. Kenapa ?” tanyaku kembali.
               “Aku suka sama dia, mau nyomblangin nggak?” aku benar-benar kaget. Bukan hanya Yuri, Radit sendiri juga pernah bercerita tentang Yuri. Aku hanya tidak tahu apa yang benar-benar harus aku lakukan. Di satu sisi, aku menyukai Radit dan disisi lain aku tak mungkin menolak hal ini. Kalaupun kutolak, pasti akan tersebar gosip tak enak sementara aku menutupi perasaanku ini dengan sangat ketat agar tak seorangpun akan mengetahuinya.
               “iya deh, entar aku comblangin”
               Hari ke hari Radit tetap selalu bercerita tentang kedekatannya dengan Yuri samapai suatu hari.
               “Ta, thanks ya. Lo bener-bener sahabat gue” kata Radit kepadaku.
               “iya sama-sama. Tapi kenapa ya, bahagia banget lo hari ini” jawabku heran.
               “hmm. Ta, gue jadian sama Yuri. Semalem. Gue dateng ke rumahnya.” ujar Radit bahagia. Apa ? nggak. Gue nggak seneng. Dit, kamu salah orang buat curhat yang satu ini. Aku sakit dit.
               “waah, selamet ya. Eh, teraktir kita niih. Pajak jadian. Hhaha” tawaku  palsu.
               “iya nih. Tularin seneng lo ke kita dong” kata Adi.
               “iya-iya. Beli deh makanan di kantin yang kalian bertiga mau. Entar gue yang bayar.”

+++
               Hari ini hujan. Tentu saja aku harus menunggu hujan ini reda. Kali ini aku tidak bersama geng cowok tiga itu. Aku kembali ke habitat ku untuk berkumpul bersama teman-teman se-gender ku. Hape ku berbunyi. Ada sms. Aku segera membukanya. Ini dari Mamanya Radit.
Tata udah sampe dirumah ?
               “Siapa Ta?” tanya Fila.
               “Ini, dari mamanya Radit” ups. Aku lupa.
               “hah ? kok bukan Yuri ya, malahan kamu? Ujar Fila bingung. Aku hanya tertawa kecil merasa tidak enak dan takut. Tidak enak kalau sampai Yuri tau dan takut di kalo Yuri sampe tau.
               Aku kembali diundang mama radit ke rumah. Radit sedang di luar. Jadi, aku hanya menemani mama nya yang hanya dirumah.
               “Ih, tante nggak suka sama pacarnya Radit. Yuyu. Sombong anaknya” tiba-tiba tante mira menyela pembicaraan. Jelas aku senang dong. Yuri tak dapat dukungan dari tante mira.  “tenang aja Ta, orang yang lama pacaran aja belom tentu jadi. Tunggu saja waktunya yang tepat. Cinta itu anugerah” Tante mira kayaknya yakin bener aku suka sama anaknya. Aku masih tetap memasang raut wajah yang tenang, lugu, dan pura-pura tidak tahu. Cinta itu anugerah. Aku nggak akan pernah lupa kata-kata Tante Mira yang itu.
               Apa sebaiknya aku katakan saja pada radit, tentang perasaan ku? Setidaknya aku bisa merasa lega setelah berbulan-bulan menahan sebuah perasaan. Tidak, jangan sekarang. Aku takut, Radit akan menjauhiku karena tau aku punya perasaan lebih terhadapnya. Aku selalu bilang sama teman-temanku kalau aku menyukain seseorang, namun setiap mereka tanya siapa, aku selalu menunjuk orang yang berbeda. Tak mungkin aku katakan pada orang-orang tentang perasaan ku walau aku sering merasa sakit.
               “Kemaren sore lo kemana sama Radit?” tanya Yuri sambil menatapku tajam.
               “Cuma gowes doang di sekitaran komplek. Kenapa ?” kebetulan aku sudah lama berada di perumahan yang sama dengan Radit namun Perumahan ini tergolong perumahan yang besar sehingga rumahnya banyak jadi wajar aja kalo gue baru tau.
               “Oooh. Gitu ya ? gue waktu itu juga pernah gowes bareng dia, terus kita makan di kafe sepulang dari gowes. Seru deh. “ ujar Yuri tiba-tiba. Aku sontak terkejut. Untuk apa Yuri menyombongkan pa yang telah dilakukannya dengan Radit. Apa dia merasa seseuatu yang aneh dari ku terhadap Radit? Apa dia cemburu, aku lebih sering bermain dengan Radit ketimbang dia jalan sama Radit yang notabene pacarnya? Dasar cewek aneh. Gue bener-bener nyesel pernah ngenalin lo ke Radit.
               “wow, asik banget ya. Kayaknya Radit romantis banget orangnya.” Pujiku
               “iyalah, Radit itu cowok paling romantis. Selain itu dia baik banget orangnya.”  Jawab Yuri lagi. Dan jawabannya itu adalah jawaban yang tak perlu diutarakan sedemikian rupa. Aku sudah tau kalau Radit orang yang romantis dan baik. Dan setahuku dia memang sanagat baik. Bukan hanya setahuku, tetapi serasaku.
               Pagi ini hujan lagi. Rata-rata siswa dan guru datang terlambat. Aku mensyukurinya karena tak ada yang lebih indah selain  melihat dan merasakan indahnya hujan. Sekolah pun berakhir, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Aku menoleh.
               “eh Radit. Kenapa ?
               “Gue mau cerita Ta. Ke rumah gue yuk” ajak nya.
               “oke deh, yang lain ikut kan ? tanyaku.
               “Nggak. Gue mau curhat eksklusive sama lo. Cuma lo yang bisa” ya Tuhan, Radit, kemana aja sih kamu? Emang Cuma aku yang bisa. Hhehehe. 
DI RUMAH RADIT
               “Ta, gue bingung sama sikap Yuri. Kenapa dia ngelakuin gue kayak gini. Tiap hari gue dicuekin. Tiap hari dia ngajak berantem. Padahal gue selalu sayang sama dia, gue selalu baik sama dia. Kenapa sih dia gak peduli sama perasaan gue?
               “Dit, lo sabar. Emang Yuri tu kayak gitu orangnya. Coba deh lo tanya sama dia, kenapa dia kayak gitu.” Jujur, aku sangat sedih mendegarnya.
               “udah Ta. Tiap gue tanya gitu, dia pasti jawab, “pikir aja sendiri” terus, apa dong yang harus gue pikirin? Gue nggak tau Ta. Emang nggak ada yang sayang sama gue” air mata Radit jatuh. Aku pun mulai ikut menangis. Tak kusangka Radit terlalu menderita bersama Yuri walau dia sangat menyayangi Yuri. Yuyu, awas kau ya. Berani-beraninya menghancurkan hati My Radit.
               “Dit, banyak kok yang sayang sama lo. Nyokap lo, bokap lo, gue, Ridho, Adi, keluarga lo semuanya. Semuanya sayang sama lo. Masa lo nyerah gini Cuma gara-gara seorang cewek?”
               “makasih ta” Radit memelukku sambil menangis. Aku ikut terlarut dalam kesedihannya namun lumayan bahagia karena bisa bilang sayang sama radir dan mendapat pelukan hangatnya.
               “iya sama-sama” aku tersenyum dan menepuk punggungnya pelan. Sebenernya aku mau bilang sama Radit “Dit, tinggalin aja lah si yuri, masih ada gue yang bakal buat hari-hari lo bahagia. Bukan sebagai sahabat lo, tapi sebagai pacra lo” tapi nggak mungkin deh kayaknya.
               Radit mengatarku pulang ke rumah. Dia terlihat lebih bersemangat dari yang sebelumnya. Aku masuk kerumah dengan hati yang lumayan bahagia dan sedikit marah. Marah sama Yuri. Huh -,-
+++
               “Ta, tau nggak, si Radit putus.” Kata Adi yang sangat membuatku kaget.
               “hah ? serius lo? Kapan?” tanyaku pensaran.
               “Udah semingguan ini deh kayaknya. Dia nggak cerita sama lo ya?”
               “Nggak. Gue aja taunya dari lo.” Ya Tuhan. Terimakasih telah mendengar doaku. Sekarang aku harus apa ? ngasih tau dia kalo aku suka ? atau apa?
               Aku menghampiri  Radit yang sedari tadi seperti menunggu seseorang di depan gerbang sekolah. “eh dit, ngapain bediri disini ?” tegurku langsung tanpa basa-basi.
“Lama banget sih, gue tungguin dari tadi. Yuk pulangnya barengan.” Ujar radit. Dan aku tersipu. Hehe. “Lo tau kan kabar gue yang putus?”  tanya radit tiba-tiba saat di perjalanan.
“Iya kok. Gue dikasih tau Adi. Kenapa bisa?” tanyaku.
“bisa lah. Gue udah capek ngadepin dia. Sesayang apapun gue, dianya masih kayak gitu nggak ada perubahan, gue akhiri aja. Bener kan langkah yang gue ambil ini?”
“iya. Bener kok. Kalo gue jadi lo, gue juga bakal ambil langkah yang sama walaupun sebenernya buat ngelupainnya yang susah”
“susah sih emang. Tapi gue nggak. Gue udah bisa ngelupain dia.” Cepet banget sih dit?
“loh? Kok cepet banget. Bukannya lo sayang banget sama dia.”
“iya. Tadinya gue sayang, tapi rasa gue udah mati ke dia. Dan gue tau siapa yang bener-bener care sama gue dan selalu ada disaat apapun keadaan gue dan satu hal lagi, disukain sama nyokap gue” ujarnya sambil menatap mataku tulus. Aku bisa melihat sesuatu yang berbeda dari tatapannya. Sangat berbeda. Aku tersenyum, Ia pun begitu. Dan saat itulah aku bahagia dan tak pernah menyesal menunggunya. Menunggu hatinya hingga Ia menyadarinya

-end-




Friday, July 6, 2012

yippiii

kenapa yippi ?? karena, alhamdulillah, setelah LULUS SMA, gue LOLOS SNMPTN. yaaa walaupun pilihan yang kedua, sedikit kecewa, tapi seneeeeeng :D. setidaknya, saat orang tua lagi di luar kota sekarang ini, gue bisa ngabarin mereka dengan kabar baik, heheh
dan mulai sekarang, gue harus berusaha untuk masa depan...
doakan saya yaaa :D

Sunday, March 25, 2012

Detik-Detik penggalauan

haii. udah lama gue nggak nulis. kangen nggak ?? hahahaha (garing-,-).
jadi ya besok gue bakal menjalankan yang namanya US atau juga Ujian Sekolah. dan 2 minggu setelahnya UN (Ujian Nasional) pun berlangsung. nggak kerasa banget kan. rasanya baru kemaren gue curhat soal masuk SMA, eh sekarang udah mau tamat aja.
gue banyak harapan kalo udah sampe titik ini. banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaak bangeeeeeeet.
1. lulus sma nilai oke
2. masuk PTN yang diinginkan
nah sekarang masalah satu gue belum selesai. sedangkan gue deg-degan berpenuh harapan menunggu pengumuman,
hmm. maap ya cerita gue kocar-kacir. maklum otak yang nulis juga lagi kocar-kacir. hhahaha :D
nah, bulan maret-april bulan sibuk gue. bulan mei nya bulan deg-degan gue. pasalnya di akhir bulan itu ada 2 pengumuman., yang pertama pengumuman kelulusan, 3 hari setelahnya pengumuman SNMPTN jalur undangan.

I just wish to reach them both. I graduate from high school, and I accept in the university that I choose. please please....