Saturday, December 15, 2012

A story (2)



Oh,ternyata
By : Ahn Ah Ra

Aku menyukainya. Senyum ramah itu, mata itu, sikap itu, dan semuanya, aku menyukainya. Seseorang yang ku sebut sahabat. Ifan.
Seperti biasa, aku pergi ke sekolah bersama Ifan. Dia sudah menungguku. Ah, gayanya masih sama seperti biasanya. Aku tersenyum simpul melihatnya dari jauh. Kuturuni anak tangga cepat-cepat takut membuatnya menunggu terlalu lama. Dan kami berjalan menuju sekolah. Sekolah kami tak terlalu jauh. Ifan membuka obrolan lebih dulu. “eh, lu kenal siska ?” siska ? ngapain Ifan nanyain siska? “iya gue kenal, emang kenapa?” please jangan bilang kamu suka dia, jangaaan fan jangaaan. “semalem dia nge-PING, gue ping balik, dia bilang salah ping, modus banget sih.” Oh ternyata begitu. Syukurlah kamu nggak suka dia. Lalu Ifan menambah omongan “abis itu kita bbm-an sampe larut. Nggak tau kenapa, cepet banget langsung akrab gitu. Padahal sebelumnya gak pernah tegoran. Heheh aneh ya Mel” dia tersenyum, tersipu, sedikit menoleh ke arahku dan aku tertawa seraya berkata “jangan buru-buru yaa Ifaaan.” “iyaaa baweel lu ah.” Apa-apaan ini? ternyata? Ah sudahlah, lagian aku tak mungkin mengatakan tentang… ah sudahlah.

Aku berjalan menuju kantin, sendiri. Terkadang ada disaat aku malas bergabung dengan yang lain dan saat itu muncul sekarang. Aku pesan satu mangkuk bakso, makanan favorit aku dan Ifan. Aku memulai menyantap bakso ku lalu seseorang menghampiri, siska. “mel, lu temenan sama Ifan kan ? dia gimana ya orangnya?” aku tersedak, sedikit batuk, minum air putih, lalu menjawab, “dia baik. Kenapa emang?” oh, aku tau jawaban siska pasti… “aku suka sama dia mel.” tuh kan bener. “oh, pantes, dia yadi nyeritain elu” tuh kan, akunya bego. “iya ya ? bagus deh kalo gitu. Thanks ya mel.” Siska berlalu, loncat-loncat kegirangan. Heran, cepet amat udah suka aja. Dan aku lahap lagi bakso yang masih ya, lumayan banyak. Aku menoleh sekitar, tak ada Ifan, lanjut makan.

Aku menunggu Ifan di depan pagar. Seperti biasa, pergi bersama, maka pulang harus bersama. aku celingak celinguk mencari apa sosoknya sudah muncul atau belum. 3 menit menunggu, sosoknya sudah terlihat dari kejauhan, tentu saja aku sudah hapal, langkah kakinya, caranya berjalan dan aku tak akan lupa. “maaf ya lama nunggu, yuk pulang.” Ujarnya. “gak apa-apa kok. Yuk.” Aku mengangguk dan mulai melangkah menuju rumah masing-masing. “besok gue jemput lagi ya mel.” Hah? Gak salah denger nih? “kan emang begitu. Lu ke rumah gue, terus, pergi bareng.” “oh iya ya, gue lupa mel. Haha” dia tertawa, seakan, ah, mungkin saja….entahlah, apa hanya aku yang merasakan.

Lain waktu lagi, sama seperti biasa-biasanya, Ifan menungguku di depan rumah dengan gayanya yang entahlah, menawan mungkin dan kami pergi bersama. seperti biasa, kami tertawa, bercanda, sepanjang jalan ini.”Mel, Eki nanyain elu ke gue. Kayanya suka tuh dia.” Apaan sih lo fan, masa iya kamu nyomblangin aku ke orang lain? “iya, gue suka bbm-an sih sama dia. Apaan sih lo bodo amat ah.” Bodo amat fan, aku suka nya kamu doang. “gak apa-apa kali mel, pokoknya kalo dia nembak, terima aja ya.” Ah Ifan segininya sama ahabat sendiri, kenapa nggak tanya perasaan aku nya gimana-gimana atau apa? “apaan sih lo. Emang kenapa sih? Gue mau nerima atau nggak kan urusan gue.” Aku berpaling sejenak, tarik nafas . “soalnya Mel, gue mau nembak Siska. Menurut lo gimana? Kalo Eki nembak lo, trus lo terima, kita bias double date gitu” dan ketika itu juga harapanku terhenti. Kenapa tiba-tiba sih? “terserah lo sih, gue dukung kok.” Bohong kamu mel, bohong banget. Fan, tega banget sih, kenapa nggak liat aku sih ? dan sepanjang hari itu sampai mereka jadian, gue tetep ketawa, yang pada akhirnya Eki bener-bener nembak gue dan gue terima guna menghilangkan sakit dan kecewa. Apa karena aku nggak bilang ke dia? Nggak mungkin aku bilang duluan. Dan mungkin dia nggak akan tahu samapi pada akhirnya masing-masing dari kami bersama yang lain. Ya aku menyukainya tanpa ia sadari dan ketahui, tanpa pernah ia tanyakan dan mungkin ia nyatakan. Dan aku tak pernah tau yang sebenarnya.


***

Aku menyukainya. Wajah lembut, pipi merah, senyum indahitu, dan semuanya, aku menyukainya. Seseorang yang ku sebut sahabat. Imel.
Seperti biasa, aku sarapan pagi dan bergegas ke rumah Imel. Kami selalu pergi ke sekolah bersama. Aku menunggunya sejenak. Imel keluar dengan rambut sedikit basah dan gayanya yang alakadar tak berlebihan. Kami berjalan sedikit lambat, waktu masih menunjukkan pukul 6.15 wib. Aku membuka obrolan perjalanan kali ini. “eh, lu kenal siska?” jangan mikir yang mcem-macem ya mel. “semalem dia nge-PING, gue ping balik, dia bilang salah ping, modus banget sih.” Aduuuh, kenapa aku bilang gitu lagi. “abis itu kita bbm-an sampe larut. Nggak tau kenapa, cepet banget langsung akrab gitu. Padahal sebelumnya gak pernah tegoran. Heheh aneh ya Mel” aku tertawa berusaha terlihat baik dan menawan di depannya. “jangan buru-buru yaa Ifaaan.” “iyaaa baweel lu ah.” Yakin deh kamu nggak punya rasa yang sama. Ah, harusnya aku berani bilang.

Aku melihat Imel jalan sendiri menuju kantin, terlihat dari jauh, memesan semangkuk bakso, makanan favorit kami berdua. Kaki ku hendak melangkah menghampiri namun terhenti, Eki, teman se-ekskul ku memanggil. “sob, mau kemana?” aku menoleh, “nggak mau kemana-kemana. Knapa sih? Tumben bener. Haha.” Aku sedikit tertawa. Dia terlihat mencari-cari seseorang dan menunjuk ke arahnya, Imel. “lu pacaran ya sama tu anak? Imel?” aah, pertanyaan ini, pasti ini anak suka sama Imel. “nggak, gue sahabatan aja sama dia. Suka ya lu sama dia?” iya gue pacarnya, gue mau jadi pacarnya. Please Ki, jangan bilang kalo lo.. “iya, diem-diem aja ya, eh, lu nggak cemburu kan?” iya gue cemburu ! “haha, apaan, nggak lah. Temen gue doang dia mah.” “thanks bro. gue nggak enak aja kalo ternyata itu pacar nya elu, tapi jomblo kan dia?” “iya, dia jomblo, tenang aja haha” aku tertawa sejenak. Ah, gue harus bilang ke Imel, tapi, kalo Imel nolak, ah pasti nggak akan se-akrab ini. Aku kembali melihat Imel yang sedang menyantap baksonya.

Kelas belum bubar juga. Aku toleh keluar jendela, dan siswa-siswi kelas lain sudah bertebaran kemana-mana sedangkan Pak Burhan disini, masih menahan kami untuk menyelesaikan sedikit materinya. Aku ingin cepat-cepat keluar. Tak enak hati jika Imel menunggu terlalu lama. Kelas bubar. Aku segera keluar dari kelas dan berlari sedikit agar Imel tak terlalu lama menunggu. Ya, benar dia sudah menunggu. Aku perlambat langkah. “maaf ya lama nunggu, yuk pulang.” gak apa-apa kok. Yuk “ dia mengangguk dan kami melangakah menuju rumah masing-masing. “besok gue jemput lagi ya mel.” eh, emang biasanya aku kerumah dia, ngejemput dia, terus pergi bareng. Ini kenapa jadi begini ? Ah, Ifaaan, bego banget sih. Kan canggung jadinya. “kan emang begitu. Lu ke rumah gue, terus, pergi bareng.” “oh iya ya, gue lupa mel. Haha” aku tertawa, sedikit hambar. Gara-gara percakapan dengan eki kah?

Lain waktu lagi, sama seperti biasa, aku menjemputnya. Menunggun di depan rumahnya. Seperti biasa pula, dia keluar dengan rambutnya setengah basah, dan gayanya yang alakadar tidak berlebihan. Seperti biasa kami tertawa, bercanda, celotehnya, dan gurauanku membuat jalan ini begitu riang, dan aku berharap tetap seperti ini namun rasa semua itu tidak mungkin. Aku sudah terlalu dekat dengan Siska, dan mungkin Imel, sudah dekat dengan Eki. .”Mel, Eki nanyain elu ke gue. Kayanya suka tuh dia.” Lo jangan suka ya mel, please. iya, gue suka bbm-an sih sama dia. Apaan sih lo bodo amat ah.” Yah, udah sering kontak-an, udah jauh kayanya. “gak apa-apa kali mel, pokoknya kalo dia nembak, terima aja ya.” Ah, bodoh kamu Ifaaan. “apaan sih lo. Emang kenapa sih? Gue mau nerima atau nggak kan urusan gue.” Sedikit membentak. Imel memalingkan wajahnya. Aku sedikit terdiam lalu sedikit berkata, “soalnya Mel, gue mau nembak Siska. Menurut lo gimana? Kalo Eki nembak lo, trus lo terima, kita bias double date gitu” kalo kamu nggak suka aku nembak Siska, bilang ya Mel. Aku mau tau jawaban kamu. “terserah lo sih, gue dukung kok.” Dan disaat inilah, aku yakin Imel tak pernah ada rasa. Hingga aku menyatakan pada Siska, dan Imel menerima Eki. Dan mungkin rasa iini aku biarkan saja. Aku biarkan tanpa ada yang tau. Tanpa Imel tahu, tanpa orang lain tahu. Dan aku tak tahu apa aku telah meyakini hal yang salah.

***



0 comments: